Di tepi perjalanan hidup
Seorang anak manusia meratapi nasibnya
Penuh dengan liku derita dan air mata
Merasa diri tak seberuntung anak lain
Seakan Tuhan ‘terlalu jauh’ dari peranan takdir
Di lorong lain perjalanan hidup
Seorang anak manusia bersukacita karena nasibnya
Penuh dengan senyum dan canda tawa
Merasa diri begitu banyak diberi karunia
Seakan Tuhan ‘begitu dekat’ dengan kenyataan yang dihadapi
Seorang saksi bisu melihat dua jenis anak manusia ini
Tersenyum penuh arti seakan pahami ekspresi manusiawi
Dari kedalaman hatinya dia berkata sendiri
Segala sesuatu adalah Tuhan itu sendiri
Bagaimana mungkin Ia ‘menjadi jauh’ atau ‘menjadi dekat’?
Ia selalu ada bersama anak-anak-Nya
Saat anak tersadar atau pun tertidur lelap
Ia selalu ada bersama tangisan dan keceriaan anak-Nya
Namun anak punya kehendak bebas dari-Nya
Walau Dia ada dalam satu rumah bersama anak-anak-Nya
Anak punya pilihan sendiri dengan pikirannya
Anak bisa datang ke Bapa-nya kapan pun dia mau
Atau mengurung diri di kamarnya karena ingin sediri
Atau pergi mencari pelarian bersama teman-temannya
Atau berkonsultasi ke orang lain yang bukan Bapa-nya sendiri
Padahal Bapa-nya selalu siap kapan pun anak ingin dibantu
Anak-lah yang menciptakan ‘jarak’ di pikirannya
Saat dia tidak mampu bertatap muka dengan Tuhan-nya
Dirinya merasa jauh dari dekapan kasih sayang Tuhan
Padahal Tuhan selalu ada bersamanya di rumah yang sama
Siap dengan segala hal yang dibutuhkan sang anak
Tidak ada jarak ‘dekat atau jauh’ di mata-Nya
Tidak ada orang suci atau jahat di hadirat-Nya
Tidak ada orang beriman atau tidak beriman di rumah-Nya
Yang Dia akui dengan kasih sayang hanya satu
Semua adalah anak-anak kandung dari rahim-Nya sendiri
Ia tidak mungkin ‘menjauh atau mendekat’ terhadap anak-anak-Nya
Karena Ia selalu ada bersama mereka dan mengasihi mereka selamanya
Itulah orang tua kandung anak-anak manusia
Yang sudah dilahirkan tapi tidak mau mengakui keberadaan-Nya
Yang sudah disusui dan dirawat tapi tetap tidak percaya kepada-Nya
Tapi kasih sayang orang tua-nya tidak pernah pudar sedikit pun
Anak tetaplah anak dan Dia mengasihi setiap anak-anak-Nya
Sadarilah betapa ‘Kudus dan Maha Agung’ orang tua seperti ituLabel: Refleksi