those are special messages for you

the messengers

we deliver those special messages...
for you.
:D



open up

'Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanKu ke dalam mulutmu.'
(Yeremia 1:9)



questions and comments




so over it

Januari 2009
Februari 2009
Juni 2009




thankyou

designer: god<3jo
base codes: detonatedlove♥,i-celemontee, florescent!
image: deviant art
hosting: photobucket, blogger, blogskins


Sabtu, 24 Januari 2009
Satu Permintaan | 22.13
Seorang bapak-bapak sedang duduk terdiam. Duduk di depan pintu sebuah rumah. Bapak-bapak tersebut berdiri. Namun, terlihat tidak tenang. Berulang kali, bapak-bapak itu celingukan. Menoleh ke sana kemari, ke berbagai arah. Dia menatap lurus ke depan, dengan pandangan menerawang. Beberapa kali, jika ada orang-orang lewat, sang bapak bertanya, 'apakah kau melihat anakku?'. Berulang kali pula, sang bapak mendapat jawaban 'tidak'.

Suatu ketika, sang anak pulang. dengan keadaan yang begitu memprihatinkan. lusuh, kusut, berdarah-darah, dan kelihatan sangat kurus. lalu sang bapak bertanya, 'darimana sajakah engkau, nak?'

Dan sang anak pun menjawab, 'aku baru pulang dari perantauan yang jauh. aku pikir aku bisa hidup mandiri tanpa bantuanmu. aku tidak mau mengandalkanmu. namun, sejak beberapa hari yang lalu, persediaan makananku habis. uangpun aku sudah tidak punya. aku menjual beberapa barang yang kubawa dari rumah, dan kudapati sekian banyak uang. namun, itupun tidak cukup. beberapa kali aku mencari kerja, dan aku diterima dengan mudahnya. ketika aku bertanya kepada yang mempekerjakanku, mereka hanya bilang, "bapakmu memintaku untuk memberimu pekerjaan." saat mendengar itu, aku marah. aku berpikir kenapa kamu tahu bahwa aku sedang mengalami masa yang sulit, dan kenapa kamu dapat memberikan bantuan semacam itu untukku. beberapa kali aku bekerja, dan aku selalu mendengar pernyataan yang sama dari mereka. bahwa engkau ada di balik semua bantuan itu.

'aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku mau mandiri. aku tidak mau bantuanmu. aku akan berusaha hidup sendiri, dan mandiri. karena aku tidak dapat menemukan pekerjaan yang tidak ada labelmu, aku memutuskan untuk tidak bekerja. Aku menahan lapar berhari-hari. Suatu ketika, saat lapar seakan hampir membunuhku, aku memutuskan untuk mencuri. Aku berhasil bertahan beberapa hari dengan makanan hasil curianku. Namun, tindakanku itu diketahui oleh pemilik makanan dan barang yang kucuri. ketika aku dihajar oleh suruhannya..., dalam kesadaranku yang tinggal setengah, aku mendengar seseorang berkata kepadanya, "hentikan. aku adalah pesuruh bapaknya. jangan pukuli dia lagi. bapaknya akan mengganti kerugianmu berlipat-lipat asalkan kau berhenti memukulinya. sudah cukup pelajaran yang dia terima darimu."

'Lagi-lagi, aku mendengar engkau disebut. Dalam sisa kesadaranku, aku bertanya, kenapa aku tidak dapat lepas darimu ? kenapa engkau selalu disebut-sebut dalam setiap langkahku. kenapa engkau ada di mana-mana ? sudah lupakah engkau akan perkataanku sebelum aku pergi darimu? tidak sakitkah engkau mendengar semua yang kukatakan?? tapi, kenapa aku tidak melihat kebencian darimu. kenapa kau malah memberi pertolongan. padahal, aku sudah menjauh darimu. kupikir kau tidak akan sudi melihatku lagi. Kenapa?'

Bapak-bapak itu menatap wajah sang anak dengan lembut. Ia membelai kepala sang anak, lalu memeluknya. Kemudian, ia berkata, "Aku mengasihimu. Aku mendengar apa yang kau katakan, dan aku tahu kamu merasa menyesal setelah kamu mengatakan hal itu. aku tahu kamu berusaha berjalan sendiri, karena kamu menganggap tidak mau membuatku repot. aku tahu kamu. aku kenal kamu. aku tahu bahwa di dalam hatimu ini ada penyesalan. aku pun tahu di dalam hatimu ini ada kebimbangan. aku pun tahu.. kalau kamu mengasihiku. namun, satu yang kuminta darimu. sedalam-dalamnya kamu merasa bersalah, sesedih-sedihnya penyesalanmu, aku minta satu hal darimu... jangan menjauh dariku."

Dengan peupuk mata yang tergenang, sang anak berkata, “kenapa? Apa ruginya kalau aku menjauh darimu? Di rumahmu tinggal banyak anak. Mereka semua begitu luar biasa, begitu mengagumkan, dan mereka semua membuatmu bangga. Sedangkan aku? Apalah artinya aku? Aku tidak mempunyai catatan prestasi sebanyak yang mereka punya. Aku sering membangkang terhadapmu. Aku sering membuat hatimu sakit. Lebih baik aku tidak berada di dekatmu.”

“Anakku... kenapa kamu berpikiran seperti itu? Kamu adalah kamu... kamu tidak dapat digantikan oleh orang lain. Aku memang memiliki banyak anak. Tapi, kamu hanya ada satu. Hanya ada satu kamu. Bagiku, prestasimu bukanlah yang utama. Tapi, hatimulah yang terpenting. Apa yang ada di dalam hatimu... itulah yang penting bagimu. Aku memahami kamu yang seringkali membangkang. Karena aku tahu kamu mengalami banyak problema. Aku tahu seringkali kamu menyalahkanku yang kau anggap tidak mendidikmu dengan baik. Tapi, ketahuilah, aku selalu ada untukmu. Apapun permasalahanmu, aku selalu bersedia mendengarkanmu. Telingaku siap mendengarkan keluh kesah maupun kegembiraanmu. Mataku tertuju padamu. Jangan menjauh dariku. Karena dunia ini terlalu berbahaya untuk kau jalani seorang diri. Kemarilah, aku akan mengajarkanmu, agar kamu menjadi lebih baik di mata dunia. ”

“Tidak untuk menjadi baik di matamu juga?”

Bapak-bapak itu menggeleng. “untuk apa kau mau berusaha terlihat baik di mataku? Sejak awal kau lahir, dan sampai detik ini, kau adalah baik di mataku.”

Label: